Mandikan Aku Bunda
Suatu Pelajaran yg Sangat Berharga, dimana
kasih sayang tak pernah bisa ditukar dengan harta dunia.
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan,
dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. sungguhnya syaitan itu musuh
yang nyata bagimu. ( Terjemah Al Qur'an )
( hasil copy paste dari internet )
MANDIKAN AKU, BUNDA
Saya ingin bertutur tentang seorang sahabat saya. Sebut saja Rani namanya. Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya.
Ketika
Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum Internasional di Universiteit
Utrecht, di negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus melangkah.
Sementara saya, lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan
berpisah dengan seluk beluk hukum dan perundangan.
Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang "setara" dengan
dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta
mereka lahir ketika Rani baru saja diangkat sebagai staf Diplomat
bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Konon nama putera mereka itu
diambil dari huruf pertama hijaiyah "alif" dan huruf terakhir
"ya", jadilah nama yang enak didengar : Alifya.
Tentunya filosofi yang mendasari pemilihan nama ini seindah namanya pula.
Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani
semakin menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan
dari satu negara ke negara lain makin meninggi.
Saya
pernah bertanya , " Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?"
Dengan sigap Rani menjawab : " Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya.
Everything is ok." n itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian
anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul
mengagumkan. Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian.
Kakek
neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang
ibu-bapaknya. "Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti."
Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang
tidurnya. Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang
berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya.
Ketika
Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu Ia dan
suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum
memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah
kecil ini "DAPAT MEMAHAMI" orang tuanya. Mengagumkan memang. Alif
bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia
jarang sekali ngambek.
Kisah
Rani, Alif selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan
menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski
kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam hati kecil saya
menginginkan anak seperti Alif.
Suatu
hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan
baby-sitternya. "ALIF INGIN BUNDA MANDIKAN." Ujarnya. Karuan saja
Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar.
Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien,
baby-sitternya.
Persitiwa ini berulang sampai hampir sepekan, "BUNDA, MANDIKAN ALIF"
begitu setiap pagi. Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang
dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta perhatian.
Sampai
suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. "Bu dokter,
Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency". Setengah
terbang, saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Allah SWT sudah punya
rencana lain. Alif, si Malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya.
Rani,
bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor
barunya, shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah
memandikan putranya.
Dan itu
memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. " INI
BUNDA LIF, BUNDA MANDIKAN ALIF " Ucapnya lirih, namun teramat pedih.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung.
Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, " INI SUDAH TAKDIR,
IYA KAN ? Aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya,
dia pergi juga kan ?". Saya diam saja mendengarkan.
"
INI KONSEKUENSI SEBUAH PILIHAN." lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat.
Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani tertunduk. "Aku ibunya ............................!"
serunya kemudian, "BANGUNLAH LIF, BUNDA MAU MANDIKAN ALIF. BERI KESEMPATAN
BUNDA SEKALI SAJA LIF". Rintihan itu begitu menyayat. Detik berikutnya ia
bersimpuh sambil mengais-ngais tanah merah. Air mata kesedihan menyirami pusara
Alif, putra satu-satunya. ( Nasi telah jadi bubur, yang berlalu tak pernah
kembali lagi, penyesalan selalu datang terlambat )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar